3
Mar

5 Skandal Pengaturan Skor Paling Memalukan di Sejarah Sepak Bola

Permainan cantik yang ditampilkan para pelaku sepak bola baik lokal maupun luar negeri dalam membawa nama baik timnya seolah menjadi magnet para pencinta olahraga yang satu ini. Mereka tidak henti-hentinya menyaksikan permainan tim dan pemain kesayangan mereka. Ditambah piala dunia 2018 yang akan berlangsung dalam hitungan bulan.

Sayangnya, dunia persepakbolaan tidak luput dari kasus-kasus suap salah satunya pengaturan skor. Seolah menjadi momok dan aib yang memalukan, skandal pengaturan skor masih terjadi sampai sekarang. Sepak bola Tanah Air pun sempat tercoreng oleh tindakan-tindakan tercela para oknum yang melakukan pengaturan sepak bola demi kepentingan pribadi. Berikut 5 Skandal terpanas pengaturan sepak bola yang memalukan.

1. Skandal Totonero pada 1980

Sepak bola Italia atau biasa disebut Serie A yang pernah menjadi liga terbaik ini harus tercoreng namanya karena skandal pengaturan skor. Totonero melibatkan tim-tim Serie A dan B seperti Milan, Lazio, Perugia, Bologna, Taranto dan Palermo. Otak di balik skandal ini merupakan 2 orang pemilik toko di Roma, Fabio Trinca dan Massimo Cruciani, yang membeli pertandingan dari para pemain tim tersebut. Skandal yang sudah berlangsung cukup lama ini, akhirnya tercium oleh polisi keuangan Italia atau Guardia di Finanza. Mengakibatkan sekitar 20 pemain dan 2 presiden dari tim yang terlibat harus diberhentikan dan dihukum jika ditotal sebanyak 50 tahun.

2. Calciopoli pada 2006

Calciopoli

Sumber: 10footballentertainment.com

Sepak bola Italia lagi-lagi harus terjerat skandal pengaturan skor. Skandal kali ini melibatkan lima tim papan atas seperti Juventus, AC Milan, Lazio, Fiorentina, dan Regina. Penyelidikan FIGC atau persatuan sepak bola Italia dan kepolisian setempat mengungkapkan bahwa klub-klub tersebut mendapatkan hak istimewa dari wasit yang jelas menguntungkan mereka pada setiap pertandingan.

Skandal ini berimbas pada dihukumnya Juventus yang harus merelakan gelar Scudetto 2004/2005 dan 2005/2006 dicabut serta turun kasta ke divisi Serie B. Sementara itu, klub-klub lainnya hanya mendapatkan pengurangan poin.

3. Skandal Suap Wasit Bundesliga Tahun 2005

Bundesliga Scandal

Sumber: mapsofworld.com

Publik Jerman kali ini patut merasa kecewa dengan skandal pengaturan skor pada pertandingan-pertandingan Bundesliga. Pasalnya, seorang wasit bernama Robert Hoyzer terlibat pengaturan skor di beberapa pertandingan seperti divisi dua, tiga, dan piala domestik yang melibatkan klub-klub Bundesliga. Skandal pengaturan ini meliputi penalti kontroversial hingga kartu merah pada 23 pertandingan berbeda.

Sang wasit dilaporkan mendapat bayaran dari hasil memanipulasi empat pertandingan sebesar €67.000 dan satu set televisi yang jika dirupiahkan menjadi Rp955.179.681. Berimbas pada larangan untuk mengikuti sepak bola seumur hidup dan 2 tahun penjara karena skandal kontroversial ini merupakan yang terbesar dalam dunia sepak bola Jerman.

4. Skandal Sepak Bola Gajah Tanah Air

Skandal sepak bola gajah bermula pada 1988 di pertandingan Divisi Utama Perserikatan Persebaya dan Persipura guna membalas dendam pada PSIS agar terjegal dan bertemu Persipura. Seolah membuka luka lama karena PSIS yang kalah oleh PSM Makasar pada Divisi Utama Perserikatan 1985/1986 berimbas pada Persebaya yang tidak bisa lanjut ke babak enam besar. Persebaya merelakan dibobol sebanyak 12 gol dan membiarkan Persipura melaju ke babak selanjutnya.

5. Sepak Bola Gajah PSS Melawan PSIS

Skandal memalukan berikutnya datang dari sepak bola Tanah Air lagi. Dikenal sebagai Skandal Sepak Bola Gajah yang melibatkan PSS memenangkan pertandingan atas PSIS pada Piala Tiger 1998. Skor 3-2 itu terlihat janggal karena hasil skor kelima gol terjadi akibat gol bunuh diri. Kedua tim terpaksa melakukan sepak bola gajah supaya tidak menjadi juara grup yang akan mengantarkan mereka berhadapan dengan Borneo FC, mengingat pada tahun tersebut Borneo FC merupakan tim yang harus dihindari karena permainannya serta kerap mendapatkan keuntungan untuk lolos di tiap laga. Akibatnya seluruh pemain yang terlibat dalam skandal tersebut harus dihukum dan dilarang untuk bermain sepak bola lagi.

Demi mendapatkan segelintir uang, terkadang para pemain seolah lupa akan kewajibannya menampilkan permainan yang indah untuk dilihat dan membawa tim yang dibela menjadi pemenang. Oleh karena itu, untuk menyambut ajang bergengsi Piala Dunia 2018, diharapkan untuk tidak ada lagi kasus seperti ini yang jelas merugikan  para penikmat sepak bola.

Agen Piala Dunia 2018